Partisipasi INASS dalam kegiatan Trauma Kota mempertegas komitmen bersama dalam membangun kesadaran sosial melalui seni sebagai medium refleksi atas isu kekerasan di ruang publik. Kegiatan ini juga menjadi wujud kolaborasi lintas sektor dalam menghadirkan ruang diskusi yang inklusif bagi masyarakat.
Kegiatan Trauma Kota merupakan pameran seni, pertunjukan, dan diskusi publik yang menghadirkan karya sebagai sarana menyuarakan keresahan sosial masyarakat perkotaan. Melalui kegiatan ini, berbagai pihak seperti masyarakat, komunitas, seniman, jurnalis, akademisi, hingga pemerintah diajak untuk terlibat dalam dialog terbuka guna memahami persoalan yang terjadi serta mencari solusi bersama.
Kegiatan yang dihadiri oleh INASS tersebut berlangsung pada Minggu, 26 April 2026, dengan pembukaan pukul 10.00 WITA di Sanang Space, Kecamatan Mariso. Kegiatan ini dilaksanakan oleh Kementerian Kebudayaan bersama para mitra penyelenggara sebagai bentuk dukungan terhadap penguatan peran seni dan budaya dalam menjawab persoalan sosial di tengah masyarakat.





Sejak awal kegiatan, suasana berlangsung interaktif. Para pengunjung tidak hanya menikmati karya seni yang dipamerkan, tetapi juga aktif terlibat dalam diskusi terkait isu yang diangkat. Peserta yang hadir berasal dari berbagai kalangan, mulai dari pelajar, mahasiswa, masyarakat umum, hingga perwakilan pemerintah.
Dalam pelaksanaannya, penyelenggara mengundang Mrs. Dr. Suryani Jihad, S.Pd., M.Pd., CT., ALC., CPSE., CIJ. untuk menghadiri pembukaan sekaligus pameran foto. Beliau turut mengikutsertakan mahasiswa INASS, yaitu Bunga Sahruni, Mirnawati, Muh. Raihan Saputra, dan Anggi Amalia Putri, yang hadir dengan pendampingan beliau. Selain mengikuti pameran foto yang dipandu oleh seorang seniman, mahasiswa juga terlibat dalam diskusi ringan bersama penyelenggara.
Menariknya, pameran foto yang ditampilkan didominasi oleh nuansa hitam dan putih. Pemilihan warna ini bukan tanpa makna, melainkan sebagai simbol bahwa fenomena trauma kota merupakan persoalan lama yang terus berulang dan hingga kini belum menemukan solusi yang tuntas. Visual hitam-putih tersebut merepresentasikan ingatan kolektif, luka sosial, serta realitas keras yang masih membayangi kehidupan masyarakat perkotaan.
Dalam sesi diskusi, salah seorang seniman sekaligus sutradara, Nurul Inayah, S.H., M.H., mengarahkan jalannya diskusi menggunakan bahasa Inggris. Dalam suasana santai namun reflektif, beliau mengajak mahasiswa untuk “menggantungkan cita-cita setinggi plafon agar lebih mudah dicapai” sebagai bentuk guyonan yang memotivasi. Lebih dari itu, beliau juga menekankan pentingnya memahami aspek psikologis para korban kekerasan sebagai bagian dari pendekatan yang lebih humanis dalam melihat persoalan sosial.
Hal tersebut diperkuat oleh Husnul Luthfiah, S.Pd., M.Pd., selaku owner Alekawa, yang menekankan pentingnya kesadaran kolektif dalam memahami trauma dan kondisi psikologis korban. Seluruh gagasan ini disampaikan dalam diskusi berbahasa Inggris, sehingga sekaligus menjadi ruang pembelajaran kontekstual bagi mahasiswa dalam mengasah kemampuan komunikasi global mereka.
Poin penting yang menjadi sorotan dalam diskusi adalah urgensi edukasi keluarga atau parenting. Ditekankan bahwa peran orang tua sangat krusial dalam membentuk karakter dan perilaku anak agar tidak terjerumus dalam kekerasan jalanan, termasuk fenomena geng motor. Tanpa disadari, akses dan fasilitas yang dimiliki anak—baik kendaraan, kebebasan penggunaan waktu, maupun kurangnya pengawasan—sering kali bersumber dari orang tua sendiri.
Selain itu, muncul pula refleksi kritis terhadap regulasi terkait pelaku di bawah umur yang dinilai belum memberikan efek jera secara signifikan. Kondisi ini, jika tidak diimbangi dengan penguatan pendidikan karakter di lingkungan keluarga, berpotensi membentuk pola pikir permisif pada remaja untuk mengulangi tindakan kekerasan. Oleh karena itu, sinergi antara keluarga, pendidikan, dan kebijakan publik menjadi kunci dalam mencegah meningkatnya kekerasan di ruang kota.
Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya keamanan di ruang publik serta mendorong partisipasi aktif berbagai pihak dalam menciptakan lingkungan yang lebih aman. Selain itu, kegiatan ini menegaskan bahwa keamanan kota merupakan tanggung jawab bersama, tidak hanya pemerintah, tetapi juga seluruh lapisan masyarakat.
Program Trauma Kota diinisiasi oleh Ahmad Amri Aliyyi sebagai bentuk kepedulian terhadap isu sosial di perkotaan dan diselenggarakan bersama berbagai elemen masyarakat dengan dukungan Kala Teater sebagai mitra kolaborasi serta Kementerian Kebudayaan sebagai pihak pelaksana kegiatan.
Sutriani