Berpikir kritis merupakan inti dari literasi media dan informasi. Membaca, berhitung tidaklah cukup, perlu juga dibarengi dengan berpikir kritis untuk senantiasa waspada terhadap hal yang belum layak dijadikan acuan. Oleh karena itu, DEMA IPI senantiasa berupaya untuk menghidupkan budaya literasi dengan membuka lapak baca serta dialog seputar isu terkini atau teori-teori yang bisa dibedah lebih dalam.

Selain itu, pengurus DEMA telah melaksanakan Bazar Dialog pukul 20:30 WITA – Selesai berlokasi di Warkop Mau Co Hertasning Sasaran kegiatan ini adalah mahasiswa/i dan praktisi dengan menghadirkan Nur Afni perwakilan IMM Gowa salah satu pemateri dalam kegiatan bazar dialog beliau melihat konsep patriarki bukanlah bentuk bentuk penindasan tetapi lebih ke bentuk ketidakadilan terhadap perempuan, kemudian dilanjutkan dengan narasumber kedua Lili Cahyati dari perwakilan HMI cabang Sulsel

Pemateri pertama dari organisasi eksternal yaitu PC IMM GOWA melihat bahwa sistem patriarki adalah yang buruk bagi peradaban dan beliau menawarkan solusi untuk mengatasi persoalan ini dengan membuat kesepakatan dalam berumah tangga agar terhindar dari sistem ini. Pemateri kedua adalah lili Cahyani selaku Kabid Diklat Kohati HMI Badko Sulawesi Selatan memandang bahwa sistem patriarki adalah satu konstruksi yang hadir akibat kesalah pahaman terkait pembagian tugas antara feminim dan maskulin beliau memandang bahwa seharusnya melalui hak asasi tidak ada lagi membagian tugas yang hakiki karena itu akan menghambat kebebasan berekspresi pada kaum perempuan sehingga potensi dalam diri sehingga harusnya tidak perlu ada yang namanya diskriminasi terhadap kaum perempuan.

Adapun pemateri ketiga adalah Alfia Asrul S.Ap dari Kabid keperempuanan DPP Kemanusa yang memiliki pandangan berbeda bahwa patriaki adalah hal yang sangat baik untuk peradaban akan tetapi beliau terlebih dahulu menyampaikan apakah definisi patriarki ini sudah benar, apakah kakak laki-laki menjaga adik perempuannya untuk tidak keluyuran adalah hal yang salah? Apakah suami memimpin dalam  rumah tangga itu sesuatu yang direkayasa? Dan apakah keadilan versi feminisme itu sudah bisa menunjang peradaban yang yaitu keadilan 50-50? Beliau memulai argumen dengan beberapa pertanyaan yang mendalam yaitu apakah kita akan menerima hegemoni yang di tawarkan oleh barat secara cuma-cuma?. Beliau melanjutkan bahwa sistem patriarki adalah satu wadah yang sangat sempurna diturunkan oleh Tuhan untuk menjaga keamanan kaum perempuan karena sifat singa/menjaga ada pada kaum laki-laki sistem ini dikatakan sempurna karena supaya perempuan tidak menjadi sararan buruk bagi singa/laki-laki lain yang tidak bertanggung jawab jadi beliau menawarkan satu pandangan lain bahwa tidak ada keburukan dalam patriarki, dia menjadi buruk karena masih banyak orang salah memahami bagaimana harusnya laki-laki dan bagaimana harusnya perempuan sehingga hal yang negatif akan terhindar dengan sendirinya.

Alasan dilaksanakannya kegiatan ini adalah untuk memantik mahasiswa supaya lebih dalam lagi memahami bagaimana besarnya peran perempuan dalam membangun peradaban dan juga untuk menjawab persoalan kekerasan terhadap perempuan maka kegiatan ini sedikit banyaknya menjawab apa penyebabnya dan bagaimana solusinya karena persoalan ini sudah mulai terlihat juga dalam rana akademik.

Kegiatan lainnya adalah dengan membuat Latihan Kepemimpinan Mahasiswa (LKM) yang dilaksanakan pada hari Jum’at – Ahad, tepatnya tanggal 9 – 11 Mei 2025. Dengan mengangkat tema, “Memperkuat Semangat Kepemimpinan yang Progresif dan Inovatif”. Selaku Ketua DEMA, Jumadil mengatakan bahwa tujuan dari kegiatan LKM ini adalah untuk Membangun hubungan Emosional antara panitia dan juga ke sesama peserta. Selain itu, mengajak teman peserta berfikir benar dan tidak terhanyut dalam dogma-dogma irasional.