GOWA – Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (HMPS PAI) Institut 'Aisyiyah Sulawesi Selatan (INASS) menggelar kegiatan Dai Muda Berbicara 2026 bertema “Dakwah Dunia Digital” di Musholah Institut 'Aisyiyah Sulawesi Selatan, Rabu, 3 Juni 2026. Kegiatan yang menghadirkan Angkilang S.Pd., M.Pd., DMM. sebagai pemateri ini bertujuan membekali mahasiswa dengan pemahaman tentang strategi dakwah yang efektif, bijak, dan relevan di tengah perkembangan teknologi digital yang semakin pesat.

Acara yang berlangsung ba’da Zuhur tersebut diikuti oleh mahasiswa dari berbagai program studi. Melalui diskusi interaktif, peserta diajak memahami tantangan sekaligus peluang berdakwah melalui media sosial dan platform digital lainnya.

Dalam pemaparannya, Angkilang menjelaskan bahwa perkembangan teknologi telah mengubah pola komunikasi masyarakat, termasuk cara menerima dan menyebarkan informasi keagamaan. Oleh karena itu, para dai muda perlu memahami karakteristik media digital agar pesan dakwah dapat diterima secara luas tanpa kehilangan substansi ajaran Islam.

“Dunia digital adalah ruang dakwah yang sangat besar. Jika digunakan dengan baik, satu konten positif dapat menjangkau ribuan bahkan jutaan orang dalam waktu singkat,” ujar Angkilang di hadapan peserta.

Menurutnya, media sosial telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat, khususnya generasi muda. Kondisi tersebut menjadikan platform digital sebagai sarana strategis untuk menyampaikan pesan-pesan Islam yang menyejukkan dan membangun.

Ia menegaskan bahwa dakwah digital tidak cukup hanya berfokus pada penyampaian materi keagamaan. Seorang pendakwah juga perlu memahami cara mengemas pesan agar menarik, komunikatif, dan mudah dipahami oleh berbagai kalangan.

“Dakwah hari ini tidak cukup hanya benar dari sisi isi, tetapi juga harus mampu disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami dan relevan dengan kebutuhan masyarakat,” katanya.

Selain membahas strategi komunikasi, Angkilang juga mengingatkan pentingnya menjaga etika dalam bermedia sosial. Ia menilai bahwa seorang dai harus mampu menjadi teladan dengan menyebarkan informasi yang benar, menghindari ujaran kebencian, dan tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum terverifikasi.

Secara tidak langsung, ia menjelaskan bahwa keberhasilan dakwah di era digital bukan semata-mata diukur dari jumlah pengikut atau popularitas akun media sosial. Menurutnya, dampak positif yang dirasakan masyarakat menjadi indikator utama keberhasilan dakwah.

Ia juga menuturkan bahwa generasi muda memiliki peluang besar untuk menjadi agen perubahan melalui konten-konten edukatif yang bernilai. Dengan kreativitas dan pemahaman agama yang baik, mahasiswa dapat memanfaatkan teknologi untuk menghadirkan narasi Islam yang moderat dan mencerahkan.

“Jangan hanya menjadi penonton di dunia digital. Jadilah penyebar kebaikan yang mampu menghadirkan solusi, inspirasi, dan nilai-nilai positif melalui setiap konten yang dibuat,” tuturnya.

Pada sesi diskusi, peserta terlihat antusias mengajukan berbagai pertanyaan mengenai tantangan dakwah di media sosial. Beberapa mahasiswa menyoroti maraknya penyebaran hoaks, rendahnya literasi digital, serta fenomena konten keagamaan yang lebih mengutamakan sensasi dibandingkan edukasi.

Menanggapi hal tersebut, Angkilang menjelaskan bahwa literasi digital menjadi bekal penting bagi seorang dai muda. Ia berpandangan bahwa pemahaman terhadap teknologi harus berjalan beriringan dengan penguatan ilmu agama dan akhlak agar dakwah tetap berada pada koridor yang benar.

Moderator kegiatan, Evita Wulandari, menyampaikan bahwa forum seperti Dai Muda Berbicara menjadi ruang belajar yang penting bagi mahasiswa. Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya memperluas wawasan peserta, tetapi juga memberikan motivasi untuk memanfaatkan media digital secara lebih produktif.

Kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama antara pemateri, panitia, dan peserta. HMPS PAI INASS berharap program Dai Muda Berbicara dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan sebagai wadah pengembangan kapasitas mahasiswa dalam menghadapi tantangan dakwah di era digital sekaligus mendorong lahirnya generasi muda yang aktif menyebarkan nilai-nilai Islam yang damai, edukatif, dan bermanfaat bagi masyarakat luas.

Sutriani