Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PK IMM) Institut Aisyiyah Sulawesi Selatan (INASS) melalui Bidang Riset dan Pengembangan Keilmuan menyelenggarakan kegiatan Bedah Buku "Hadiah untuk Mahasiswa" pada Selasa, 7 Juli 2026 pukul 16.00–17.30 WITA, bertempat di Institut Aisyiyah Sulawesi Selatan. Kegiatan ini dihadirkan sebagai ruang intelektual bagi kader IMM untuk memperkuat tradisi membaca, berdialog, dan berpikir kritis sebagai bagian dari proses pembentukan karakter kader Muhammadiyah. Tidak hanya diikuti oleh kader IMM INASS, forum ini juga dihadiri kader IMM UIN Alauddin Makassar serta mahasiswa dari berbagai latar belakang organisasi, sehingga menghadirkan atmosfer diskusi yang inklusif dan kaya perspektif.

Kegiatan yang diinisiasi oleh Bidang Riset dan Pengembangan Keilmuan PK IMM INASS ini menghadirkan IMMawan Muh. Fadil Syah sebagai pembedah buku dengan IMMawati Sayyidarahma Azzahr sebagai moderator. Dalam pemaparannya, Muh. Fadil Syah menjelaskan bahwa substansi buku Hadiah untuk Mahasiswa tidak sekadar mengajarkan cara menjadi mahasiswa yang berprestasi secara akademik, melainkan mengajak mahasiswa memahami hakikat pendidikan tinggi sebagai proses pembentukan manusia yang utuh. Menurutnya, mahasiswa tidak boleh memaknai kuliah hanya sebagai jalan memperoleh indeks prestasi dan gelar sarjana, tetapi sebagai momentum untuk menumbuhkan kapasitas intelektual, kedewasaan spiritual, kepekaan sosial, serta keberanian mengambil peran dalam menjawab persoalan masyarakat.

Lebih jauh, pembedah menekankan bahwa masa perkuliahan merupakan fase yang sangat menentukan arah kehidupan seseorang. Waktu di bangku kuliah adalah kesempatan emas yang tidak dapat diulang, sehingga harus dimanfaatkan untuk membangun budaya berpikir kritis, memperluas jaringan intelektual, mengembangkan kepemimpinan, serta menghadirkan pengabdian yang nyata. Ia juga mengingatkan bahwa tantangan terbesar mahasiswa bukanlah dosen yang tegas ataupun banyaknya tugas akademik, melainkan kemalasan berpikir, mentalitas bergantung kepada orang lain, dan hilangnya orientasi hidup. Oleh karena itu, mahasiswa dituntut menjadi agen perubahan yang memiliki tanggung jawab moral dan intelektual dalam mengawal nilai-nilai keadilan, kemanusiaan, dan kemajuan bangsa.

Diskusi berlangsung dinamis ketika peserta mulai memberikan interpretasi kritis terhadap isi buku. Salah satu pandangan menarik disampaikan oleh IMMawan Aldi Taufik, yang menafsirkan bahwa makna "hadiah" dalam buku tersebut bukanlah penghargaan yang bersifat material, melainkan *kebebasan*. Menurutnya, menjadi mahasiswa berarti memasuki ruang kehidupan yang lebih luas, di mana seseorang memperoleh kebebasan untuk berpikir, menentukan pilihan, membangun identitas, serta bertanggung jawab atas setiap keputusan yang diambil. Dalam perspektif tersebut, kebebasan bukan dipahami sebagai hak tanpa batas, melainkan amanah intelektual yang harus diarahkan untuk menghasilkan gagasan, karya, dan kontribusi nyata bagi masyarakat. Pandangan tersebut memperkaya forum diskusi dan menunjukkan bahwa sebuah buku akan terus hidup ketika mampu melahirkan beragam penafsiran yang kritis dan reflektif.

Melalui kegiatan ini, PK IMM INASS kembali menegaskan komitmennya dalam membangun tradisi akademik yang berorientasi pada pengembangan keilmuan kader. Bedah buku tidak hanya menjadi agenda literasi, tetapi juga menjadi ruang dialektika yang mempertemukan teks, konteks, dan realitas sosial dalam satu forum ilmiah. Tradisi membaca, mengkritisi, dan mendiskusikan gagasan merupakan fondasi penting bagi lahirnya kader Muhammadiyah yang berintegritas, berwawasan luas, dan mampu menghadirkan solusi atas berbagai persoalan kebangsaan. Dengan demikian, forum ini menjadi pengingat bahwa kualitas seorang mahasiswa tidak hanya diukur dari prestasi akademik, tetapi juga dari keberanian berpikir, kedalaman refleksi, serta kesediaannya mengabdikan ilmu pengetahuan demi kemaslahatan umat dan bangsa.

Aldi Taufik