MAKASSAR, 14 Juni 2026 – HMPS Ekonomi Syariah FEBI INASS menggelar forum kajian bertajuk Diskusi Isu Kontemporer (DISKON) di Ruang B 1.1 Gedung B INASS, Ahad, 14 Juni 2026. Kegiatan yang diinisiasi oleh Departemen Advokasi dan Kaderisasi Kabinet Nitya Seva Periode 2025–2026 ini menjadi ruang dialektika bagi mahasiswa untuk mengkaji isu nasional yang berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat.

Pada edisi kali ini, diskusi mengangkat tema “Membaca Arah Rupiah: Benarkah Pelemahan Nilai Tukar Tidak Berdampak pada Ekonomi Desa?”. Forum dipandu oleh Nurul Wahyu selaku moderator dan menghadirkan akademisi muda sekaligus pengamat ekonomi, A. Idul Saputra, sebagai pemantik utama.

Dalam pemaparannya, A. Idul Saputra menjelaskan bahwa pelemahan rupiah bukan hanya dialami Indonesia, tetapi juga berbagai negara lain akibat menguatnya dolar Amerika Serikat (USD). Kondisi tersebut dipicu oleh kebijakan moneter ketat bank sentral AS yang mendorong aliran modal keluar dari negara berkembang, termasuk di kawasan Asia Tenggara.

Menurutnya, dampak pelemahan rupiah tidak hanya dirasakan pelaku ekspor-impor, tetapi juga menyentuh sektor agraris di pedesaan. Kenaikan harga pupuk, bibit, bahan kimia pasca-panen, dan pakan ternak yang masih bergantung pada impor menyebabkan biaya produksi petani dan peternak meningkat serta mengurangi margin keuntungan masyarakat desa.

Lebih lanjut, Idul mengaitkan fenomena ini dengan Teori Hierarki Kebutuhan Abraham Maslow dan Teori Psikoanalisis Sigmund Freud. Ia menjelaskan bahwa kenaikan harga kebutuhan pokok mengancam pemenuhan kebutuhan dasar dan rasa aman masyarakat, sekaligus memicu kecemasan kolektif akibat menurunnya daya beli. Jika tidak diantisipasi melalui mitigasi dan literasi ekonomi yang baik, kondisi ini berpotensi memunculkan sikap apatis, kecemasan sosial, hingga gesekan di tingkat masyarakat.

Sebagai solusi, A. Idul Saputra menekankan pentingnya memperkuat ketahanan ekonomi desa melalui optimalisasi produksi lokal dan peningkatan literasi keuangan masyarakat. Melalui kegiatan ini, HMPS Ekonomi Syariah FEBI INASS menegaskan perannya sebagai agen perubahan yang mendorong pemahaman bahwa dinamika ekonomi global pada akhirnya berkaitan erat dengan ketahanan pangan, kondisi psikologis, dan kesejahteraan masyarakat desa.

Sutriani