GOWA — Sebuah kain tidak selalu hanya berbicara tentang benang dan motif. Di baliknya dapat tersimpan sejarah, identitas, pengetahuan, nilai budaya, dan cerita manusia yang menjaganya tetap hidup.

Berangkat dari pemikiran tersebut, tim peneliti Institut ‘Aisyiyah Sulawesi Selatan (INASS) bersama peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melakukan penelusuran wastra tradisional di Kabupaten Gowa dan Kabupaten Jeneponto pada 7–20 Agustus 2026. Tim INASS terdiri dari Dr. Nurhayati Azis, S.E., M.Si., Dr. Suryani Jihad, S.Pd., M.Pd., dan Patur Rahman, S.Pd., M.Pd., selaku pendamping lapangan.

Menelusuri Cura’ La’ba di Gowa

Perjalanan penelitian dimulai di Kabupaten Gowa melalui penelusuran Sarung Tenun Cura’ La’ba. Tim berinteraksi dengan pemerintah daerah, pelaku budaya, dan pelaku usaha untuk memahami wastra dalam konteks sejarah, pengetahuan lokal, motif, simbol, proses produksi, material, hingga perkembangannya di tengah perubahan zaman. Cura’ La’ba dipandang bukan sekadar produk tekstil, tetapi bagian dari identitas budaya yang menyimpan pengetahuan masyarakat. Karena itu, dokumentasi sejarah, makna simbolik, serta penguatan perlindungan kekayaan intelektual menjadi bagian penting dalam ruang kajian.

Dr. Nurhayati Azis menekankan bahwa pelestarian warisan budaya perlu berjalan bersama dengan dokumentasi dan perlindungan. “Warisan budaya bukan hanya perlu dilestarikan, tetapi juga perlu didokumentasikan dan dilindungi. Identitas budaya yang diwariskan masyarakat perlu mendapatkan perhatian, termasuk melalui penguatan perlindungan kekayaan intelektual,” ujar Dr. Nurhayati.

Dari Kain Kafan Menjadi Busana Anggun

Dari Gowa, perjalanan berlanjut ke Kabupaten Jeneponto untuk menelusuri Kain Tope.

Di tengah masyarakat Jeneponto, Tope memiliki sejarah pemaknaan yang kuat karena secara tradisional dikenal berkaitan dengan fungsi sebagai kain kafan. Namun, perjalanan Tope menunjukkan bahwa warisan budaya dapat mengalami transformasi. Kini, Tope dapat dikembangkan menjadi berbagai produk, termasuk busana modern yang tampil anggun dan dikenakan dalam berbagai kesempatan penting. Kain yang dahulu sangat lekat dengan konteks kematian dapat hadir dalam ruang fesyen, kreativitas, dan ekonomi masyarakat.

Transformasi tersebut menjadi pengalaman yang berkesan bagi Dr. Suryani Jihad. Perbincangan mengenai kain putih dan kain kafan justru membawanya pada refleksi mengenai cara manusia memberikan makna terhadap sebuah benda. “Buat apa takut kain putih ataupun kain kafan? Toh dasar semua kain adalah putih, dan nantinya kita pun akan ke sana jua.”

Bagi Dr. Suryani, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa warisan budaya tidak selalu harus dipertahankan dalam bentuk dan fungsi yang sama. Kreativitas masyarakat dapat memberikan ruang baru bagi warisan untuk tetap hadir dalam kehidupan masa kini. Perjumpaan dengan pelaku UMKM juga meninggalkan kesan tersendiri. “Setiap karya yang saya bawa pulang mengingatkan saya pada orang yang membuatnya, cerita yang saya dengar, dan pengalaman yang saya rasakan selama berada di tengah masyarakat,” tuturnya.

Regenerasi melalui Pendidikan

Sementara itu, Patur Rahman menyoroti pentingnya membuka ruang bagi generasi muda untuk mengenal dan mempelajari keterampilan wastra secara langsung dari para perajin.

“Bikin semacam... pengrajin semua di dalam. Jadi ceritanya anak-anak SMK mau masuk ke situ belajar,” ujarnya.

Gagasan tersebut memperlihatkan bahwa pendidikan dapat menjadi salah satu ruang untuk mempertemukan generasi muda dengan pengetahuan dan praktik budaya yang berkembang di masyarakat.

Penelusuran juga mencermati pertemuan antara teknik tradisional, perkembangan teknologi, inovasi produk, kebutuhan pasar, serta keberlanjutan pengetahuan. Keseluruhan aspek tersebut ditempatkan dalam perspektif heritage-based economy, yang melihat warisan budaya sebagai bagian dari ekosistem sosial, ekonomi, budaya, lingkungan, dan kelembagaan. Bagi tim peneliti, perjalanan di Gowa dan Jeneponto bukan sekadar perjalanan untuk melihat kain. Ia menjadi perjalanan untuk mendengarkan cerita tentang identitas, sejarah, pengetahuan, kreativitas, dan manusia yang membuat warisan budaya tetap memiliki arti.

Melalui kolaborasi INASS dan BRIN, kajian ini diharapkan dapat memperkuat kontribusi perguruan tinggi dan lembaga riset dalam memahami serta mengembangkan potensi warisan budaya lokal secara berkelanjutan. Kajian ini masih berada dalam proses analisis dan penyusunan luaran ilmiah sesuai dengan tahapan penelitian. Berbagai informasi yang diperoleh selama penelusuran lapangan akan dikembangkan lebih lanjut dalam luaran akademik penelitian. Dari Cura’ La’ba hingga Tope, perjalanan tersebut mengingatkan bahwa sebuah kain tidak hanya ditenun dengan benang. Di dalamnya dapat terjalin sejarah, ingatan, pengetahuan, kreativitas, dan kehidupan manusia yang menjaganya tetap hidup.